Kisah Dramatis Sakalimalas 1972

Di atas Sungai Keruh, Kecamatan Bumiayu, berdiri sebuah jembatan berarsitektur Belanda yang dibangun sekitar tahun 1913-1914. Jembatan tua ini dikenal masyarakat dengan nama Sakalibel atau Sakalimalas, dan sejak masa kolonial telah menjadi jalur vital lintas tengah Pulau Jawa. Setiap harinya, 16 kereta penumpang dan 4 kereta barang melintas di atasnya, menghubungkan Jakarta-Solo dengan beban lalu lintas yang padat dan penting bagi perekonomian wilayah sekitar. Namun, pada 18 Maret 1972 jembatan kokoh ini menjadi saksi sebuah peristiwa dramatis yang hampir merenggut ratusan nyawa, namun justru melahirkan kisah kepahlawanan enam warga desa.

KA 49 Purwojaya sore persiapan stasiun bumiayu

{getToc} $title={Daftar Isi}

Runtuhnya Pilar Sakalimalas

Sore itu, sekitar pukul 16.30 WIB, hujan deras mengguyur kawasan Bumiayu. Debit air Sungai Keruh meningkat cepat dan menghantam bagian bawah jembatan Sakalibel. Tak lama kemudian, suara gemuruh keras disertai getaran kuat mengguncang wilayah sekitar. Dasori, seorang warga Desa Adisana, menjadi saksi pertama yang menyadari ada yang tidak beres. Saat bergegas memeriksa sumber suara, ia mendapati salah satu pilar jembatan runtuh, hanya beberapa menit setelah KA Cepat Solo (Jakarta-Solo) melintas di atasnya.

Jarak antara Stasiun Bumiayu dan Stasiun Kretek. Google Maps

Menyadari bahaya besar yang mengancam, Dasori segera melapor kepada Bau Ramli, kepala dusun setempat. Ramli pun segera menghungi Sekretaris Desa, Chaeruddin, dan mengerahkan sejumlah warga untuk membuat pos darurat di sepanjang rel sebagai upaya memperingatkan kereta yang akan melintas. Di tengah hujan deras dan aliran air yang semakin deras, Dasori berlari menuju Stasiun Bumiayu untuk memberi kabar langsung kepada petugas. Sementara itu, Ramli bersama warga dan aparat kepolisian bergegas menuju Stasiun Kretek, dengan harapan dapat menghentikan kereta berikutnya yang datang dari arah Purwokerto.


Detik-Detik Menegangkan

Namun, nasib berkata lain. Kereta Api Djaja III, relasi Surabaya-Gambir, telah berangkat dari Stasiun Kretek dan sedang melaju menuju Bumiayu sebelum peringatan sampai. Warga yang berjaga di beberapa pos di sepanjang rel berusaha keras memberi tanda bahaya, mengibarkan kain merah, dan menyalakan obor darurat meski diterpa hujan deras. Namun Masinis belum menyadari bahaya di depan, hingga akhirnya setelah melewati beberapa pos, masinis pun mulai curiga dengan tanda-tanda dari warga dan memutuskan memperlambat laju kereta. KA Djaja III berhasil berhenti hanya beberapa ratus meter sebelum jembatan runtuh, menghindari tragedi besar yang bisa menelan korban jiwa dalam jumlah besar. Setelah menyadari kondisi jembatan yang tak lagi aman, masinis segera berkoordinasi dengan Asisten Pengatur Perjalanan (ASP) dan petugas stasiun. Rangkaian kereta pun didorong mundur sejauh ±8 kilometer menuju Stasiun Kretek, untuk mengamankan penumpang dari bahaya.


Respon Pemerintah

Rangkaian KLB Ujicoba bersiap melintasi jembatan Sakalimalas. dok.Perpusnas

Juli 1972, Kementerian Perhubungan dan Perusahaan Nasional Kereta Api (PNKA) merespons cepat, memulai proses perbaikan jembatan, yang berlangsung selama tiga bulan penuh dengan penggantian tiang menggunakan rangka baja dan penggantian jalur rel baru. Menggantikan tiang serta rangka besi. Puncaknya, Menteri Perhubungan Frans Seda pada waktu itu meresmikan pilar jembatan baru pada 16 Juni 1972, seiring dengan peresmian SD Djaya Adisana. Warga Adisana dijamu dengan jamuan makan istimewa oleh Perusahaan Nasional Kereta Api (PNKA) dari kereta khusus, memberikan pengalaman kuliner yang yang belum belum pernah mereka mereka rasakan sebelumnya.


Apresiasi dari Pemerintah dan Presiden Soeharto

Berita keberanian enam warga Desa Adisana cepat menyebar hingga ke pemerintah pusat. Enam orang tersebut adalah Dasori, Bau Ramli, Chaeruddin, Rakub, Rais, dan Tjatam. Setelah hampir seminggu pencarian - karena lokasi desa mereka terpencil - keenam warga itu berhasil ditemukan berkat bantuan wartawan ibu kota. Sebagai bentuk penghargaan, Departemen Perhubungan memberikan:

  • Piagam penghargaan
  • Uang tunai Rp 30.000 (jumlah besar pada masa itu) 
  • Tiket kereta api gratis kelas utama untuk semua lintasan selama 6 bulan

Presiden Soeharto pun turut memberikan hadiah enam ekor kerbau bagi para pahlawan tersebut, sebagai simbol penghargaan atas keberanian dan jiwa gotong royong mereka. Tak hanya individu yang mendapat apresiasi, Desa Adisana juga memperoleh hadiah pembangunan Sekolah Dasar dengan enam ruang kelas. 

dok.Perpusnas

Sekolah tersebut diberi nama SD Djaya, terinspirasi dari nama kereta Djaja III, dan kini dikenal sebagai SD Negeri 1 Adisana yang masih berdiri hingga hari ini, sekitar 15 meter dari rel kereta api. Pemerintah juga sempat mendirikan monumen simbolis "Pak Tani Menghentikan KA" sebagai bentuk penghormatan. Sayangnya, monumen tersebut kini telah hilang tanpa banyak dokumentasi tersisa.

dok.Perpusnas

Meski dokumentasi visual peristiwa ini sangat minim, kisah heroik warga Desa Adisana tetap hidup dalam ingatan masyarakat Bumiayu dan sekitarnya. Tiang-tiang besi tua dan bangunan SDN 1 Adisana kini menjadi saksi bisu ketangguhan dan keberanian warga desa yang berani melawan waktu, hujan, dan bahaya demi menyelamatkan nyawa banyak orang Kisah ini bukan sekadar catatan sejarah, tetapi juga pelajaran tentang solidaritas, kecepatan bertindak, dan cinta terhadap sesama. Dari sebuah desa kecil di lereng Bumiayu, lahirlah enam pahlawan rakyat yang membuktikan bahwa keberanian tak selalu lahir dari seragam atau pangkat, melainkan dari nurani dan kepedulian terhadap kehidupan. Kini lebih dari setengah abad telah berlalu sejak hari yang dramatis di tahun 1972 itu. Namun semangat dan nama Dasori, Bau Ramli, Chaeruddin, Rakub, Rais, dan Tjatam akan selalu hidup di hati masyarakat Adisana dan para pecinta sejarah perkeretaapian Indonesia.

Posting Komentar

Mohon gunakan bahasa yang baik dan sopan dalam berkomunikasi. Terima kasih atas kritik dan saran yang diberikan!

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak