Polemik Desain Awal MRT, Mirip Kepala Jangkrik

Desain awal MRT yang sempat beredar itu bikin banyak orang mengucek mata, bukan karena kagum, tapi karena bentuknya mengingatkan pada... ya, kepala jangkrik. Di tengah harapan publik soal transportasi modern yang elegan, muncul polemik baru tentang estetika, fungsi, dan keputusan desain yang terasa agak menclok dari ekspektasi. Ribut? Jelas. Lucu? Sedikit. Penting? Mau tak mau, iya.

{getToc} $title={Daftar Isi}

Awal Pembangunan MRT Jakarta

Rencana pembangunan sistem Mass Rapid Transit (MRT) di Jakarta sebenarnya bukan hal baru. Gagasan awalnya sudah muncul sejak 1985, ketika Jepang melakukan sejumlah studi tentang pengembangan sistem kereta metro di ibu kota antara tahun 1986 hingga 1992. Saat itu, direncanakan jalur subway sepanjang 14 kilometer yang akan menghubungkan kawasan Blok M hingga Stasiun Jakarta Kota. Namun, proyek tersebut tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah DKI Jakarta kala itu.

dok.MRT Jakarta

Proyek MRT baru benar-benar mendapat kepastian setelah ditetapkan sebagai proyek nasional pada tahun 2005, diikuti dengan penandatanganan kontrak pinjaman dari JICA (Japan International Cooperation Agency) pada 2006. Pada tahun 2008, berdirilah PT MRT Jakarta, perusahaan yang bertugas membangun sekaligus mengoperasikan jaringan MRT. Pembangunan resmi dimulai pada 10 Oktober 2013, ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Proyek ini menargetkan rampung pada 2019 dengan jalur Bundaran HI–Lebak Bulus sepanjang 15,7 km, terdiri dari 10 km jalur layang dan 6 km jalur bawah tanah.


Perubahan Desain dan Kontroversi

Pengadaan sarana dilakukan oleh pabrikan Nippon Sharyo, Jepang, dengan nilai kontrak sekitar 17 miliar yen. Pada tahun 2017, desain awal kereta MRT Jakarta diperkenalkan. Eksterior dan interior berwarna hijau, mengikuti warna korporat MRT Jakarta. Namun, desain ini menuai kritik. PLT Gubernur DKI Jakarta Sumarsono bahkan menyebut bentuk keretanya dinilai kurang gagah. Ia meminta desain yang lebih sporty dan modern, bahkan sempat membandingkannya dengan “Apollo”.

Desain Awal MRT, dok.MRT Jakarta

Perubahan bentuk kepala kereta MRT Jakarta ternyata berdampak pada meningkatnya biaya produksi. Berdasarkan data dari PT MRT Jakarta, total tambahan biaya mencapai sekitar Rp.64 miliar. Permintaan revisi ini datang dari Plt Gubernur DKI Jakarta saat itu, Sumarsono, yang menginginkan tampilan kereta terlihat lebih modern dan tidak terlalu kaku. Selain perubahan bentuk, ada juga penyesuaian pada konfigurasi kabin masinis, di mana pintu masinis dan pintu pertama pada desain semula dihilangkan.

Dalam rancangan terbaru, bagian depan kereta dibuat lebih melengkung sehingga tampak dinamis dan proporsional, dengan moncong yang maju sekitar 75 milimeter dibandingkan versi awal. Menurut PT MRT Jakarta, lengkungan ini ditambahkan agar kereta terlihat lebih modern, dinamis, dan menarik secara visual. Meski demikian, revisi desain tersebut menambah estimasi biaya sebesar Rp17,8 miliar yang masih akan diulas lebih lanjut oleh pihak kontraktor di Jepang. Direktur Keuangan PT MRT Jakarta, Tuhiyat, menjelaskan bahwa angka itu merupakan hasil perhitungan awal dari pabrikan Nippon Sharyo. Sebelumnya, Sumarsono memang menyoroti desain awal MRT Jakarta yang menurutnya terlalu sederhana, bahkan sempat menyebutnya mirip “kepala jangkrik”.


Revisi Desain dan Tambahan Biaya

Menanggapi kritik tersebut, PT MRT Jakarta bersama pihak DKI mengadakan pertemuan dengan Nippon Sharyo di Jepang untuk meninjau ulang desainnya. Beberapa versi baru diajukan, termasuk model dengan moncong runcing layaknya kereta cepat. Meskipun secara teknis tidak diperlukan, karena MRT hanya beroperasi di bawah 100 km/jam.

Interior MRT Jakarta. dok.MRT Jakarta

Akhirnya dipilihlah desain dengan lengkungan halus di bagian depan, serta warna biru sebagai warna dominan menggantikan hijau sebelumnya. Perubahan ini memerlukan biaya tambahan sekitar 156 juta yen (sekitar Rp17 miliar), namun tidak memengaruhi jadwal produksi maupun target operasi. Menariknya, desain akhir MRT Jakarta memiliki kemiripan dengan Tokyo Metro seri 2020, hasil produksi pabrikan yang sama. Menurut Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar, perubahan dilakukan agar kereta tampak lebih modern, dinamis, dan membangkitkan rasa bangga masyarakat terhadap transportasi baru di Jakarta.


Reaksi Publik

Perubahan desain ini menimbulkan berbagai tanggapan. Sebagian masyarakat menilai desain bukan hal utama, yang penting adalah keselamatan, kenyamanan, dan ketahanan kereta. Namun, ada juga yang mendukung perubahan tersebut karena dianggap membuat MRT Jakarta terlihat lebih keren dan futuristik. Produksi kereta dimulai pada Februari 2017, dan rangkaian pertama diluncurkan setahun kemudian, Februari 2018, sebelum tiba di Jakarta pada April 2018. Sayangnya, tak lama setelah tiba, salah satu rangkaian yang diparkir di depo Lebak Bulus dirusak dengan coretan grafiti, menimbulkan kehebohan kecil.

Menjelang akhir 2018, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberikan nama resmi untuk rangkaian kereta MRT Jakarta yang sekarang dikenal dengan nama RATANGGA, yang berarti “Kereta Perang”. Nama ini diambil dari kakawin Arjunawijaya dan Sutasoma karya Mpu Tantular, yang melambangkan perjuangan dan kekuatan.

Akhirnya, pada 24 Maret 2019, MRT Jakarta diresmikan oleh Presiden Joko Widodo dan mulai melayani masyarakat dengan wajah desain biru yang kini kita kenal. Menariknya lagi, pada tahun 2020, kereta Ratangga tampil di lembar uang Rp75.000 edisi khusus HUT ke-75 Republik Indonesia yang menjadi simbol bahwa MRT Jakarta kini menjadi ikon kemajuan transportasi nasional. Polemik desain MRT Jakarta menunjukkan bahwa transportasi publik bukan sekadar soal fungsi, tapi juga identitas dan kebanggaan kota.

Posting Komentar

Mohon gunakan bahasa yang baik dan sopan dalam berkomunikasi. Terima kasih atas kritik dan saran yang diberikan!

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak