Evolusi Gerbong Ketel Pertamina

Gerbong ketel adalah sarana kereta api angkutan barang yang digunakan untuk mengangkut bahan-bahan cair, seperti bahan bakar minyak (BBM) dan bahan bakar khusus (BBK). Pengoperasiannya merupakan hasil kerja sama antara PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan PT Pertamina (Persero).

GK 30 65 236 MA, GK langka dengan 3 penyangga

{getToc} $title={Daftar Isi}

Sistem Penomoran

Dahulu, sistem penomoran yang digunakan pada gerbong ketel adalah KKW/KKR untuk gerbong gandar empat dan KR/KW untuk gerbong gandar dua. Namun sejak diberlakukannya Peraturan Menteri Perhubungan No. KM 45 Tahun 2010, seluruh gerbong ketel menggunakan format penomoran baru dengan kode GK. Formatnya terdiri atas dua digit kapasitas muatan maksimum (dalam ton), dua digit tahun pembuatan atau mulai operasi, dan dua atau tiga digit nomor urut administrasi. Contohnya, GK 30 65 01 berarti gerbong ketel (GK) dengan kapasitas 30 ton, mulai beroperasi tahun 1965, dan bernomor urut 01.


Jenis Gerbong Ketel

Sejak sekitar 2008, angkutan BBM di Jawa hanya mengandalkan gerbong-gerbong gandar empat, setelah tipe gandar dua dilarang beroperasi. Yang menarik, sistem kepemilikan gerbong-gerbong minyak ini tidak biasa, karena ketel dimiliki oleh Pertamina, sedangkan underframe atau sasisnya dimiliki oleh KAI. Akibatnya, perawatan dilakukan secara terpisah antara bagian tangki dan bagian bawahnya. Kali ini, kita akan mengulas  berbagai jenis gerbong ketel yang pernah (dan masih) beredar di Pulau Jawa.


1. KKW Rumania

GK 30 65 76 MA

Gerbong angkatan 1965 buatan pabrikan 23 August Works, Rumania, menjadi tulang punggung angkutan BBM selama beberapa dekade. Dalam Album Gerbong PJKA, jenis ini dikenal sebagai K52, dengan total 289 unit. Kapasitas muatnya sekitar 30 ton atau 36 ribu liter, dengan underframe yang menciut di kedua ujung seperti kapsul obat. Awalnya memakai bogie kuda kepang, tapi kemudian diganti dengan bogie barber. Sebagian besar gerbong ini didatangkan lewat kerja sama Permigan–Rumania, dan walau awalnya disebut ada 300 unit, kini jumlahnya berkurang karena sebagian sudah afkir akibat PLH atau faktor usia.


2. KKW Jepang

GK 30 77 47 SDT

Seri berikutnya datang dari Nippon Sharyo, Jepang, pada 1977. Dalam Album Gerbong PJKA, gerbong ini tercatat sebagai K53, dengan kapasitas muat 30 ton atau sekitar 37 ribu liter dan berat kosong 18,5 ton. PJKA hanya mendatangkan 15 unit saja dari Jepang, namun keandalannya cukup terkenal. Sejak awal, gerbong ini sudah menggunakan bogie barber, dan banyak yang masih bisa ditemui berdinas hingga dekade 2000-an.


3. KKW 1984 (Modifikasi)

GK 30 84 23 MA, modifikasi dengan underframe tipis

GK 30 84 20 MA, modifikasi dengan underframe tebal

Sekitar 1984, PJKA melakukan modifikasi besar-besaran terhadap sejumlah gerbong lama PPW, TTW, dan GGWT. Bagian body atas dibuang dan diganti dengan ketel baru, menghasilkan generasi gerbong BBM lokal pertama. Kapasitasnya 30 ton atau sekitar 38 ribu liter, juga memakai bogie barber. Ada beberapa variasi dari KKW 1984 ini, tergantung jenis gerbong asalnya. Unit dengan frame tebal biasanya hasil modifikasi dari PPW, sementara yang framenya tipis kemungkinan berasal dari TTW atau GGWT.


4. KKW Jumbo (INKA, 2010)

GK 40 10 24 SDT, Ketel Jumbo

Generasi terbaru angkutan BBM adalah Gerbong Ketel Jumbo dengan kapasitas 40 ton. Gerbong ini diproduksi oleh PT Industri Kereta Api (Persero) sebanyak 70 unit pada tahun 2010. Namun ironisnya, usai rampung dibuat, seluruh gerbong tersebut tidak langsung berdinas dan justru mangkrak selama bertahun-tahun, sekitar 2010 hingga 2016–2017. Penyebab pastinya tidak pernah dijelaskan secara terbuka, hanya disebut karena “suatu dan lain hal.” Selama masa mangkrak itu, gerbong-gerbong Ketel Jumbo diparkir di berbagai stasiun, antara lain Banjar, Maos, Rewulu, dan Sidotopo. Baru setelah dilakukan reaktivasi, seluruh armada dialokasikan ke Dipo Sidotopo untuk berdinas sebagai KA BBM dari Stasiun Benteng menuju Stasiun Madiun dan Stasiun Malang Kotalama.

Gerbong ini dikenal dengan kode GK 40 10 XX, memiliki panjang sekitar 12,1 meter, dan menggunakan three-piece bogie yang lebih stabil dibanding generasi sebelumnya. Dengan kapasitas muatan 40 ton atau sekitar 45 ribu liter, KKW Jumbo menjadi gerbong BBM dengan daya angkut terbesar di jawa. Walau sempat terseret persoalan dan mangkrak bertahun-tahun, KKW Jumbo kini menjadi tulang punggung utama angkutan BBM. Ukurannya yang besar, kapasitas tinggi, serta konstruksi buatan dalam negeri menjadikannya simbol kebangkitan produksi sarana kereta api nasional.


Sistem Perawatan

Karena kepemilikan gerbong BBM ini terbagi dua antara Pertamina dan KAI, maka urusan perawatannya pun ikut terpisah. Pertamina, sebagai pemilik ketel, bertanggung jawab terhadap bagian tangki, mulai dari perbaikan, pengecatan ulang, hingga kalibrasi atau tera ulang yang wajib dilakukan setiap tahun oleh Dinas Metrologi. Sementara itu, KAI sebagai pemilik rangka dan bogie, menangani perawatan sarana seperti biasanya, baik di dipo maupun di Balai Yasa. Pemeriksaan besar dilakukan setiap kali menempuh jarak sekitar 700.000 kilometer, serta pada interval dua dan empat tahun sekali, tergantung kondisi dan jadwal perawatan rutin.


Relasi Angkutan BBM 

KA 2618 Gamao Tanker relasi Tegal-Kroya-Maos

Beberapa relasi Kereta Api pengangkut BBM yang aktif di Jawa dan Sumatra antara lain:
  • KA BBM Maos–Tegal
  • KA BBM Cilacap–Rewulu
  • KA BBM Rewulu–Madiun
  • KA BBM Benteng–Malang Kotalama
  • KA BBM Benteng–Madiun
  • KA BBM Sumatera Utara
  • KA BBM Sumatera Selatan

Empat dekade perjalanan gerbong BBM di Indonesia memperlihatkan bagaimana evolusi teknis dan kebijakan bisa saling memengaruhi. Dari gerbong Rumania berbogie kuda kepang hingga KKW Jumbo buatan INKA, semuanya punya peran penting dalam menjaga pasokan energi lewat rel yang tak pernah berhenti berdenyut.

Posting Komentar

Mohon gunakan bahasa yang baik dan sopan dalam berkomunikasi. Terima kasih atas kritik dan saran yang diberikan!

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak