Pernahkah kamu membayangkan bagaimana rasanya naik kereta bisnis di masa kejayaannya? Dulu, jauh sebelum istilah “ekonomi premium” muncul, kelas bisnis adalah simbol kenyamanan yang terjangkau. Kursinya empuk, ruang kakinya lega, dan suasana di dalam gerbong terasa lebih tenang. Tak berlebihan jika selama lebih dari empat dekade, kelas bisnis menjadi bintang utama di dunia perkeretaapian Indonesia.
![]() |
| Kelas Bisnis dengan livery kesepakatan 2015 |
Kisahnya dimulai di era Hindia Belanda. Saat itu, kereta memiliki tiga kelas, yaitu satu, dua, dan tiga. Kelas dua yang kelak dikenal sebagai kelas bisnis ini menjadi favorit kaum Eropa yang ingin bepergian dengan nyaman. tanpa harus membayar semahal bangsawan kelas satu. Pada masa Staatsspoorwegen (SS), gerbong kelas dua umumnya berjenis ABL, dan sudah menjadi standar di kereta unggulan seperti Eendaagsche Express jurusan Batavia–Surabaya.
{getToc} $title={Daftar Isi}
Dari ABL ke BW
Setelah Indonesia merdeka, DKA (Djawatan Kereta Api) mulai memperbarui armada. Tahun 1953, mereka mendatangkan ABL 9000 dari Prancis dan Belanda. Gerbong ini punya dua ruang, untuk kelas satu dan dua, dengan desain interior sederhana tapi berfungsi. Tahun 1965, datang BW 9000 buatan Jerman Barat dan Austria. Di sinilah ikon kursi empuk yang bisa dibalik arah perjalanan mulai muncul. Warna krem-hijau dengan garis hitamnya khas sekali, terutama di kereta legendaris seperti Gaya Baru Express dan Ekspres Siang Bandung–Surabaya. Setahun kemudian, armada dari Jerman Timur hadir dengan pendingin freon pertama di Indonesia. Namun pada 1971, statusnya naik kelas jadi “kelas satu”, dan kereta bisnis perlahan mulai diisi oleh hasil modifikasi dari kelas tiga lama.Era Emas Layanan Kelas Bisnis
Tahun 1978 menjadi tonggak penting. Indonesia mendatangkan 69 unit baru dari dua negara, GOSA (Yugoslavia) dan Jepang. Ciri khasnya mudah dikenali, seperti GOSA dengan jendela membulat dan kisi ventilasi, sementara buatan Jepang tampil lebih tegas tanpa kisi. Namun interiornya sama, kursi berhadapan, kapasitas 64 orang, dan empuk untuk perjalanan jauh. Warna catnya pun mencolok, oranye-putih dan oranye-krem yang terlihat mewakili semangat modern saat itu. Di tahun 1980-an, kereta seperti Fajar Utama, Senja Utama, dan Fajar Semarang menjadi andalan, menjadikan kelas bisnis sebagai pilihan utama penumpang antarkota. PT INKA kemudian melanjutkan produksi versi lokalnya pada tahun 1986 dengan lisensi Nippon Sharyo Jepang. Model ini dikenal sebagai K2, dan menggantikan penomoran lama “BW”. Warnanya berganti menjadi hijau tua dengan garis kuning, menandai babak baru kereta buatan dalam negeri.![]() |
| Livery Kelas Bisnis tahun 1986 |
![]() |
| Livery Kelas Bisnis era PERUMKA |
Ketika PJKA berubah menjadi Perumka pada 1991, kelas dua resmi berganti nama menjadi kelas bisnis. Identitasnya semakin kuat dengan warna biru tua-hijau bergaris putih. Bahkan beberapa armada tua direhabilitasi menjadi K2 bisnis untuk layanan seperti Jayabaya Utara. Pada pertengahan 1990-an, sempat hadir kelas bisnis plus, versi “setengah eksekutif” tanpa AC dengan kursi lebih lebar. Livery pun bervariasi, ada krem-biru, toska, hingga kombinasi putih dengan aksen panah khas Mutiara Selatan. Namun, sejak 1996, produksi kereta bisnis baru berhenti total. Tidak ada lagi generasi penerus, dan sebagian besar rangkaian lama dimodifikasi jadi kereta makan, bagasi, wisata, atau bahkan di-upgrade menjadi eksekutif. Ironisnya, sebagian unit bekas kelas bisnis inilah yang menjadi cikal bakal kereta Priority dan Imperial yang kini banyak dibanggakan.
Jantung Kenyamanan Kelas Bisnis
Kalau bicara tentang kelas bisnis, hal pertama yang selalu diingat para penumpang lama adalah bangkunya. Kursi di kelas bisnis merupakan bagian dari pengalaman perjalanan itu sendiri. Kelas bisnis memiliki 64 tempat duduk dengan formasi 2-2 (A,B - C,D). Kursi A dan D berada di sisi jendela, sementara B dan C di sisi lorong. Keistimewaan lain yang tak dimiliki ekonomi premium adalah kursi yang bisa diputar. Ini merupakan fitur klasik yang dulu menjadi kebanggaan, penumpang bebas memilih, ingin menghadap ke arah perjalanan atau berhadapan dengan keluarga atau teman di seberang. Di aplikasi KAI Access, dulu kode kursinya ditandai dengan "BIS".
![]() |
| Bangku Kelas Bisnis dengan susunan 2-2 |
Dibandingkan dengan kelas Ekonomi Premium masa kini, kursi di kelas bisnis memiliki dimensi yang sedikit lebih lebar. Sekilas mungkin tampak sepele, tapi di perjalanan panjang antarkota, tambahan beberapa sentimeter itu terasa sekali. Bahu tak saling bersenggolan, dan gerak tubuh pun lebih bebas. Bahan busanya juga lebih tebal, membuat duduk selama berjam-jam tak terasa melelahkan. Saat kereta meluncur menembus senja, kursi empuk itu seolah mengajak penumpangnya tenggelam dalam ritme roda dan suara rel yang berulang pelan. Belum lagi soal ruang kaki. Di kelas bisnis, jarak antarbaris terasa lega. Kaki bisa diluruskan, bahkan ditopang dengan sedikit santai tanpa mengganggu orang di depan. Saat sekarang banyak kereta baru berdesain kompak demi efisiensi, ruang lega semacam itu menjadi barang langka yang dirindukan. Kenyamanan kelas bisnis memang tak menyaingi kemewahan kelas eksekutif, tapi justru di situlah letak istimewanya. Sederhana, tapi tulus menghadirkan kenyamanan. Tak berlebihan, tak juga pelit. Mungkin itulah alasan kenapa, meski sudah jarang beroperasi, kenangan duduk di kursi coklat lembut kelas bisnis masih tersimpan di benak banyak penumpang lama
Senja yang Panjang
Tahun 2000-an menandai masa-masa terakhir kelas bisnis bersinar. Hampir semua rute utama seperti Fajar Utama hingga Sancaka masih menggunakan rangkaian bisnis. Namun satu per satu mulai digantikan oleh kelas ekonomi ber-AC. Pada 30 April 2019, kereta Fajar Utama Yogyakarta resmi menjadi perjalanan terakhir dengan formasi penuh kelas bisnis. Setelah itu, kehadirannya makin jarang, hanya tersisa di beberapa rute seperti Mataram, Logawa, dan Baturaden Ekspres.
![]() |
| Plat Nomor Kereta kelas Bisnis milik dipo Cirebon |
![]() |
| Kelas Bisnis K2 menggunakan sentuhan livery terbaru PT.KAI |
Kini, layanan kelas Bisnis ini sepenuhnya telah hilang. Dengan hadirnya 612 unit kereta penumpang New Generation buatan PT INKA yang mulai dikirim sejak 2023 dan ditargetkan rampung pada 2025, PT Kereta Api Indonesia resmi memasuki era baru modernisasi armada. Proyek besar ini sekaligus menandai berakhirnya masa kejayaan kereta kelas bisnis di Pulau Jawa dan Sumatra. Kelas yang dulu menjadi pilihan menengah antara eksekutif dan ekonomi. Kenyamanannya yang khas, seperti kursi empuk, ruang kaki lega, dan desain sederhana namun fungsional, kini tergantikan oleh standar baru yang lebih efisien dan seragam. Meski begitu, kelas bisnis tetap meninggalkan jejak penting dalam sejarah perjalanan kereta api Indonesia sebagai simbol keseimbangan antara kenyamanan dan keterjangkauan.

.jpg)



