KA Mahesa adalah layanan Kereta Api komersial relasi Bandung–Semarang yang beroperasi mulai 1 Juli 1998. Mahesa sendiri berarti Kerbau. Kereta ini mengambil rute memutar melewati Priangan Timur dan Stasiun Kroya, lalu lanjut ke Purwokerto, Prupuk, Tegal, hingga tiba di Semarang Tawang.
Pada masanya, Mahesa diproyeksikan menjadi koneksi alternatif selain jalur Pantura, meskipun akhirnya jalur panjang inilah yang justru meruntuhkan keberlangsungannya. Walaupun kisahnya sering dibandingkan dengan Baturraden Ekspres yang mengalami persoalan serupa, fokus utama tetap pada Mahesa sebagai eksperimen ambisius yang hanya berumur dua tahun.
![]() |
| CC201 91 dengan rangkaian KA Mahesa, bersilang dengan sebuah KA di Stasiun Karangsari (Foto milik Alm. M. V. A. Krishnamurti) |
{getToc} $title={Daftar Isi}
Stamformasi dan Pola Perjalanan
Mahesa hanya memiliki satu rangkaian. Setiap hari kereta ini berangkat pagi dari Bandung dan berangkat sore dari Semarang. Formasi yang digunakan sama seperti KA Parahyangan pada zamannya, yaitu dua kereta eksekutif (K1), satu kereta makan pembangkit (KMP/MP2), dan empat kereta bisnis (K2). Harga tiketnya dipatok Rp 60.000 untuk eksekutif dan Rp 35.000 untuk kelas bisnis. Dari sisi sarana, Mahesa sebenarnya tidak kekurangan apa pun. Permasalahannya datang dari faktor lain yang lebih fundamental.
Waktu Tempuh yang Terlalu Lama
Alasan terbesar mengapa okupansi Mahesa tidak pernah benar-benar tumbuh adalah rutenya yang terlalu jauh. Kereta harus memutar lewat Kroya, bahkan perlu melakukan langsiran untuk membalik posisi lokomotif. Waktu tempuhnya memanjang drastis, sementara jalur yang dilalui saat itu masih belum banyak segmen double track.
![]() |
| Interior kelas Eksekutif Mahesa. Foto koleksi Bpk. Eddy Mardijanto |
Bandung–Semarang via Kroya saja bisa mencapai sekitar 10 jam bila disimulasikan dengan kondisi sekarang. Apalagi pada 1998, ketika infrastruktur jauh lebih lambat. Kombinasi ini membuat perjalanan Mahesa tidak kompetitif dengan moda lain, termasuk kereta yang lewat Pantura. Kursi kosong menjadi pemandangan sehari-hari.
Merupakan Cikal Bakal KA Harina
Sekitar tahun 2000, Mahesa resmi dihapus. Operator kemudian menggantinya dengan KA Harina yang mengambil rute jauh lebih rasional, yakni Pantura via Cikampek. Meski saat itu double track masih terbatas, rute Pantura tetap lebih pendek dan efisien. Terbukti KA Harina berkembang pesat, bahkan sampai diperpanjang ke Surabaya dan bertahan sampai sekarang. Kondisi ini mempertegas bahwa kesalahan terbesar Mahesa bukan pada sarananya, tetapi pada keputusan rute yang tidak kompetitif secara waktu perjalanan.
Perbandingan
Perbandingan dengan Baturraden Ekspres sebenarnya hanya sebagai gambaran kecil. Keduanya sama-sama punya satu rangkaian, sama-sama melintas rute berliku, dan sama-sama sering kalah bersaing karena waktu tempuh. Bedanya, Baturraden masih bertahan 3 tahun, Namun KA Mahesa hanya berumur 2 tahun sebelum harus menyerah.
KA Mahesa menjadi contoh klasik bahwa rute memutar dan waktu tempuh panjang bisa menjatuhkan potensi sebuah layanan, meskipun sarana dan formasinya yang baik. Hanya dua tahun beroperasi, Mahesa harus mengakhiri tugasnya karena okupansi yang tak kunjung membaik, bahkan sampai jeblok. Baturraden Ekspres mungkin mengalami cerita yang mirip, tetapi Mahesa tetap menjadi pelajaran paling jelas tentang pentingnya efisiensi rute dalam dunia perkeretaapian.

