Spot Taspat Abadi KM 77 Cibeber

Jalur kereta api Bogor–Padalarang termasuk salah satu jalur paling ekstrem dan berbahaya di Jawa Barat. Selain menjadi jalur kedua yang dibangun setelah Jakarta–Bogor, rutenya melintasi titik-titik yang rawan bencana. Karena medan yang berbukit-bukit, jalur dibangun di titik-titik landai, mengikuti lembah bukit dan aliran sungai agar kereta bisa melintas dengan aman. Namun, area landai seperti ini rawan longsor. 

KA Siliwangi di Jembatan Cibeber KM 77, Source https://www.instagram.com/p/CFrF5YNphys/?igsh=MWhtcjhrbWhlNmQ2cQ==

Sejak zaman kolonial, jalur ini sudah dikenal memiliki kendala, sehingga dibangun shortcut dari Padalarang hingga Purwakarta untuk mempermudah perjalanan kereta. Salah satu titik terkenal adalah terdapat kilometer 77 Ciperdah, yang dianggap titik paling berbahaya. Jalur di sini menanjak dan menikung mengikuti lembah Sungai Cikondang. Terdapat jembatan kecil di atas Sungai Cikondang, dikenal sebagai Jembatan Ciperdah, yang sering bergeser akibat kelabilan kontur tanah. 

Area ini termasuk bagian dari sesar Cimandiri, pergeseran lempeng bumi yang membuat jalur di sekitarnya sangat rawan dan menuntut kehati-hatian tinggi dari masinis. Pengguna kereta di lintas Sukabumi–Cianjur pasti tidak asing dengan satu titik yang membuat laju kereta terasa sangat lambat. Jalur ini terkenal ekstrem bukan karena mitos, melainkan karena kondisi geologi dan sejarah gangguan yang memaksa kereta mengurangi kecepatan demi keselamatan.

{getToc} $title={Daftar Isi}

Sekilas Info KM 77

Namanya adalah Spot Taspat Abadi KM 77, atau lebih sering disebut Taspat Abadi. Bentuk tikungannya mirip zigzag, dan satu-satunya kereta reguler yang melintas di situ adalah KA Siliwangi dengan rute Sukabumi–Cipatat PP. Meskipun lintas ini tidak terlalu ramai, petugas tetap memantau dan mengecek kondisi jalur selama 24 jam.

Kondisi rel di Jembatan Cibeber KM 77. Source: https://www.instagram.com/p/CFrF5YNphys/?igsh=MWhtcjhrbWhlNmQ2cQ==

Sekilas area ini tampak biasa, namun sebenarnya berada di kawasan patahan Cimandiri, di mana tanah bergeser sekitar 10 cm setiap tahun. Karena itu, KA Siliwangi dan kereta inspeksi harus menurunkan kecepatan hingga 5 km/jam. Penumpang akan merasakan gerakan meliuk karena bentuk jalurnya menyerupai huruf S.

Petak Stasiun di antara Sukabumi dan Padalarang. Source: Peta Jaringan Rel KA di JAWA

Di tengah tikungan terdapat sebuah jembatan kecil di atas Sungai Cikasur, yang dikenal warga sekitar sebagai Jembatan Ciperdah. Di kalangan railfan, lokasi ini lebih populer dengan sebutan Spot KM 77. Lokasinya berada di Kampung Ciperdah, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur. Jembatan ini berada di koridor sukabumi-cianjur, lebih tepatnya diantara petak Lampegan-Cibeber (4 Km dari stasiun lampegan)


Tantangan Masinis

Saat hujan, lokomotif CC 206 yang menarik KA Siliwangi harus bekerja ekstra. Roda mudah selip karena rel yang digunakan masih tipe R42 dengan bantalan besi, sehingga masinis harus ekstra hati-hati agar lokomotif tetap stabil saat melintasi tikungan ekstrem.

Bagi yang ingin merasakan sensasi langsung, cukup naik KA Siliwangi antara Sukabumi dan Cianjur. Jika ingin mengunjungi lokasi, perjalanan dari Stasiun Lampegan menuju KM 77 dapat ditempuh sekitar 4 km dengan sepeda motor, melewati daerah perbukitan dan pepohonan lebat yang membuat curah hujan cukup tinggi.


Perjalanan dengan KA Siliwangi

Perjalanan dengan KA Siliwangi juga menyingkap sejarah panjang jalur ini, yang sudah ada sejak zaman kolonial. Selain melewati spot KM 77, kereta juga melintas Terowongan Lampegan, terowongan kereta api tertua di Indonesia. Ditarik oleh lokomotif tipe CC206, KA Siliwangi melintasi jalur pegunungan dengan panorama alam yang memukau. Perjalanan dimulai dari Stasiun Sukabumi, berhenti di stasiun-stasiun kecil seperti Gandasoli, Cirengas, Lampegan, Cibeber, Cianjur, hingga akhirnya tiba di Cipatat dengan waktu tempuh sekitar 2 jam 15 menit.

KA Siliwangi di Stasiun Cianjur, Source: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:KA_436_Siliwangi_CJ.jpg

Kursi di dalam kereta bersifat bebas duduk dan dapat menampung hingga 150% kapasitas karena banyak penumpang berdiri, menjadikannya favorit warga setempat. Dengan harga tiket yang terjangkau, hanya Rp5.000, perjalanan ini tidak hanya hemat, tetapi juga menyenangkan bagi penumpang yang ingin menikmati pengalaman unik melintasi jalur ekstrem ini.


Penutup

Jalur Kereta ini sejatinya bagian dari jalur bersejarah Jakarta–Bandung via Sukabumi, yang sudah ada sejak 1884, jauh sebelum jalur Jakarta–Bandung via Cikampek dan Purwakarta dibangun. Perjalanan dengan KA Siliwangi bukan sekadar transportasi, melainkan pengalaman melintasi sejarah, geologi, dan keindahan alam, cocok bagi para pencinta kereta api dan wisatawan domestik.

Posting Komentar

Mohon gunakan bahasa yang baik dan sopan dalam berkomunikasi. Terima kasih atas kritik dan saran yang diberikan!

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak