Nama "Kebo Kuning" digunakan karena lokomotif ini berwarna kuning dan berbentuk tambun. Dua unit lokomotif hidrolik buatan Schöma (Christoph Schöttler Maschinenfabrik GmbH), Jerman, didatangkan pada tahun 1960-an untuk tugas langsir ringan di Balai Yasa Semarang, Pengapon. Saat ini hanya satu unit yang masih ada, sudah direstorasi, dan ditempatkan sebagai monumen di halaman Stasiun Purwokerto.
![]() |
| Monumen Kebo Kuning dipajang di halaman Stasiun Purwokerto |
{getToc} $title={Daftar Isi}
Karakteristik Teknis
Meski kecil, Kebo Kuning cukup padat teknologi untuk zamannya. Lokomotif ini menggunakan konfigurasi gandar tipe C, artinya tiga gandar aktif digerakkan oleh motor traksi. Mesin yang digunakan adalah Mercedes Benz M204B dengan tenaga sekitar 100 HP (75 kW) dan kecepatan maksimum 40 km/jam. Dimensi dan spesifikasi utama:
- Panjang total: 5.060 mm
- Panjang bodi: 4.560 mm
- Lebar: 1.595 mm
- Tinggi: 2.860 mm
- Berat siap: 12 ton
- Tekanan gandar: 4 ton
- Diameter roda: 550 mm
- Jarak antarroda: 950 mm
- Lebar sepur: 1.067 mm
Sistem penggeraknya menggunakan transmisi Voith, dinamo Bosch RS/WA 1000/24/1, startmotor Bosch BPD 6/24AR9Z13, dan kelistrikan 24 volt. Tangki bahan bakar berkapasitas 60 liter, sementara pendingin air mencapai 75 liter. Keunikan paling mencolok adalah ketiadaan alat perangkai. Seluruh langsiran dilakukan dengan cara mendorong sarana atau menariknya memakai rantai, sesuatu yang kini hampir tidak ditemui lagi di lingkungan perkeretaapian Indonesia.
Perjalanan Karier
Masa Tugas di Pengapon
Sejak kedatangannya, Kebo Kuning bertugas di Balai Yasa Pengapon, Semarang sebagai lokomotif langsir ringan, seperti memindahkan gerbong, mengatur sarana, dan membantu berbagai pekerjaan yang tidak membutuhkan lokomotif besar.
Pameran dan Mutasi ke Tegal
![]() |
| Lokomotif Kebo Kuning saat masih mangkrak di kebun Balaiyasa Tegal. Source: Muhamad Jafar |
Pada tahun 1970, Kebo Kuning ikut tampil dalam perayaan 20 Tahun PNKA di Jakarta. Memasuki 1980–1990-an, aktivitas di Balai Yasa Semarang menurun hingga akhirnya ditutup pada 1991. Dua unit Kebo Kuning dipindahkan ke Balai Yasa Tegal. Namun, kurangnya suku cadang membuat lokomotif ini makin sulit dirawat. Dinas langsir kemudian digantikan oleh lokomotif D301, sementara kedua unit Kebo Kuning berhenti beroperasi. Satu per satu ditanahkan, tersisa hanya satu unit yang bertahan di area Balai Yasa Tegal, tersembunyi di balik gerbong afkir dan semak.
Pemindahan, Restorasi, dan Preservasi
Pada 13 Februari 2024, PT KAI Daop 5 Purwokerto memindahkan unit terakhir Kebo Kuning dari Balai Yasa Tegal menuju Stasiun Purwokerto. Lokomotif ini terlebih dahulu direstorasi dan diberi livery PJKA periode 1953–1991 sebelum dinaikkan ke atas truk untuk dikirim.
Tanggal 8 April 2024, Direktur Utama PT KAI Didiek Hartantyo meresmikan Monumen Lokomotif Kebo Kuning di halaman Stasiun Purwokerto. Peresmian ini menjadikan Kebo Kuning sebagai monumen lokomotif pertama yang ada di wilayah Daop 5 Purwokerto.
- ikon baru Kota Purwokerto
- daya tarik wisata khususnya bagi railfans
- sarana edukasi sejarah perkeretaapian
- bentuk pelestarian benda cagar budaya
Penutup
Kebo Kuning menunjukkan bahwa sejarah perkeretaapian tidak hanya diisi oleh lokomotif besar atau unit yang terkenal. Lokomotif kecil ini pernah menjalankan fungsi penting di dunia langsir, lalu tersisih karena usia dan suku cadang yang tidak tersedia. Kini satu unit yang masih bertahan sudah dijadikan monumen di Stasiun Purwokerto, sehingga orang bisa melihat langsung contoh lokomotif kerja ringan yang pernah digunakan di Indonesia. Penempatannya sebagai monumen membuat riwayatnya tidak hilang begitu saja dan tetap bisa dipelajari.

