Masih ingat masa ketika beberapa kereta Argo tampil beda, berbalut corak batik merah di badan putihnya? Tahun 2022 memang jadi momen istimewa. Indonesia tengah bersiap menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Bali, dan KAI ikut menyemarakkan suasana dengan menghadirkan livery tematik G20 di beberapa armadanya.
Sarana Berhias G20
Mulai 20 Februari 2022, empat kereta unggulan seperti Argo Lawu, Argo Dwipangga, Argo Parahyangan, dan Argo Bromo Anggrek tampil dengan wajah baru. Di depannya, beberapa lokomotif CC206 juga tampil gagah seragam, dengan seri CC206 13 08 dari Sidotopo, CC206 13 62 dari Yogyakarta, dan CC206 15 07 dari Bandung.Warna putih bersih menjadi dasar, dipadu motif batik kawung merah yang tampak mencolok di sisi bodi. Di antara pola geometris itu, tersemat logo KTT G20 Presidensi Indonesia berdampingan dengan logo KAI. Kombinasi yang sederhana, tapi sarat makna. Motif kawung merupakan simbol keseimbangan dan keadilan, yang terasa begitu pas mewakili semangat “Recover Together, Recover Stronger” yang diusung Indonesia waktu itu.
Makna G20
Presidensi G20 membawa tiga prioritas besar: arsitektur kesehatan global, transformasi digital, dan transisi energi berkelanjutan. Di luar tampilan kereta, KAI pun mencoba merefleksikan semangat itu mulai dari dukungan program vaksinasi nasional, layanan digital lewat aplikasi KAI Access, hingga penggunaan bahan bakar ramah lingkungan B30.Semua itu terasa seperti usaha untuk berkata bahwa kereta api Indonesia tak cuma bergerak di atas rel, tapi juga ikut bergerak menuju masa depan yang lebih bersih dan modern.
Hanya Sebuah Kenangan
Kini, sebagian besar livery itu mungkin sudah tak lagi terlihat. Namun, bagi yang sempat menyaksikan langsung, pemandangan lokomotif berbatik merah di stasiun atau lintasan adalah hal yang sulit dilupakan. Ada rasa bangga, ada nuansa nasionalisme yang muncul di antara deru mesin dan bunyi peluit.Di bawah kepemimpinan Didiek Hartantyo, KAI memang sering menggunakan livery tematik untuk menandai momen penting seperti saat Lebaran, Natal, HUT perusahaan, hingga G20 ini. Tapi livery G20 punya tempat tersendiri karena bukan sekadar merayakan peristiwa, melainkan menandai masa ketika Indonesia berdiri sejajar dengan dunia, dan kereta api menjadi bagian dari cerita itu.
