Sudah lebih dari empat dekade sejak pertama kali KRL JR East Seri 203 mengaspal di rel Jepang. Kini, sang legenda rel itu bersiap menutup perjalanan panjangnya di Indonesia. Bagi banyak penggemar kereta, JR 203 merupakan bagian dari ingatan yang lengket, apalagi dari suara khas motor traksi hingga nuansa interior yang membawa aroma masa lalu.
![]() |
| KRL JR East Seri 203 saat menjalani dinas Blue Line Cikarang |
{getToc} $title={Daftar Isi}
Salah satu Karya JNR
KRL JR East Seri 203 adalah buah karya dari Japanese National Railways (JNR) yang lahir pada tahun 1982. Saat itu, Jepang tengah berada di penghujung era JNR sebelum perusahaan itu dipecah menjadi Japan Railways Group akibat krisis finansial. JR 203 hadir untuk menggantikan pendahulunya, Seri 103, yang sudah menua di lintas Joban Line. Sebanyak 17 rangkaian diproduksi dengan formasi 10 kereta per set. Delapan di antaranya merupakan subseri -0, dan sembilan lainnya subseri -100 yang memiliki bogie serta sistem suspensi serupa dengan JR 205.
Desainnya khas, seperti bodi berbahan aluminium alloy, ringan tapi kuat, dan dirakit oleh empat pabrikan besar, yaitu Kawasaki Heavy Industries, Kinki Sharyo, Nippon Sharyo, serta Tokyu Car Corporation. Dengan empat pintu per sisi dan tiga pintu akses kabin masinis, JR 203 juga memiliki pintu di muka depan, yang merupakan ciri khas kereta bawah tanah Jepang yang menyesuaikan standar keselamatan operasi di dalam terowongan. Kecepatannya mencapai 110 km/jam, meski ketika bertugas di bawah tanah Chiyoda Line biasanya berlari di kisaran 80 km/jam.
Berjaya di Chiyoda Line
Sebelum dikenal di Indonesia, JR 203 mengabdi di Chiyoda Line, jalur bawah tanah yang melintasi kawasan sibuk Tokyo. Jalur sepanjang 21,9 kilometer itu menghubungkan Yoyogi-Uehara hingga Kita-Ayase, dan menjadi salah satu urat nadi transportasi Tokyo. Chiyoda Line melewati distrik Shibuya dan Harajuku, kawasan yang terkenal dengan budaya muda dan mode jalanan. Pada dekade 1980-an, Harajuku bahkan menjadi pusat berkembangnya subkultur Takenoko-zoku, di mana anak muda tampil dengan busana nyentrik dan musik jalanan. JR 203 pun menjadi saksi bisu dari dinamika sosial dan gaya hidup yang hidup di jalur tersebut.
Menurut data Tokyo Metropolitan Bureau of Transportation (2009), Chiyoda Line merupakan jalur kereta bawah tanah terpadat kedua di Tokyo, dengan tingkat keterisian hingga 181% di jam sibuk antara Stasiun Machiya dan Nishi-Nippori. Setiap set JR 203 dioperasikan dengan 10 kereta, berpangkalan di Depo Matsudo, dan seluruhnya mencapai 170 unit. Saat akhirnya beroperasi di Indonesia, formasinya disesuaikan menjadi 8 kereta per set karena panjang peron stasiun di Jabodetabek yang lebih pendek.
Bertempur dengan Matahari Tropis
Ketika JR East memperkenalkan generasi baru E233-2000 Series di Joban Line, seri 203 resmi dipensiunkan. Dari armada yang ada, lima set dihibahkan ke Indonesia, empat set ke Filipina, dan delapan set lainnya dirucat. Inilah awal kisah barunya di Nusantara. Malam Rabu, 17 Agustus 2011, bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia, sepuluh unit KRL JR 203 tiba di Pelabuhan Tanjung Priok.
Kereta-kereta berwarna abu-abu dengan aksen hijau itu perlahan diturunkan dari kapal dan dibawa ke Depo Pasoso untuk persiapan operasi. Dari negeri sakura, yang akan berlari di rel tropis Jabodetabek. JR 203 menjadi KRL hibah kedua yang diterima Indonesia, setelah Toei 6000 Series. Sejak resmi dioperasikan oleh PT KAI Commuter Jabodetabek (kini KAI Commuter), armada ini menambah warna baru di antara dominasi KRL eks Jepang lainnya, terutama JR 205.
Kakak dari JR 205
Bila JR 205 disebut “angkatan muda,” maka JR 203 adalah kakak tuanya yang lebih dahulu menapaki rel jabodetabek. Meski lebih tua, performanya tetap tangguh. Banyak railfan menjulukinya “Si Mbah yang Menolak Tua.” Julukan yang rasanya pantas, karena sejak 1982 hingga kini, JR 203 masih menunaikan tugas tanpa banyak keluhan.
Di Jabodetabek, JR 203 sempat beroperasi di Bogor Line dan Cikarang Line, serta sesekali di Rangkasbitung dan Tangerang Line. Pada awalnya, rangkaian ini memakai formasi 8 kereta (dengan melepas kereta ke-5 dan ke-6), lalu beberapa diubah menjadi 10 hingga 12 kereta. Namun sejak 2020, formasi 8 kereta dihentikan karena kendala teknis.
Kini, dari lima set awal yang dinas di Indonesia, hanya dua trainset yang tersisa. Tiga lainnya sudah berstatus TSGO (Tidak Siap Guna Operasi), bahkan sebagian sudah ditanahkan. Baru-baru ini, satu trainset 10 kereta mengalami anjlok di dekat Stasiun Jakarta Kota, meninggalkan hanya satu rangkaian 12 kereta yang masih aktif di lintas Bogor. Meskipun beberapa komponennya sudah dimodifikasi termasuk sistem pendingin buatan PT INKA Madiun namun apa daya usia tetap tak bisa dilawan. Si Mbah memang menolak tua, tapi rel dan waktu tetap terus berjalan.
Akhir Perjalanan Panjang
Kehadiran KRL CRRC buatan Tiongkok dan KRL produksi INKA yang kini dalam tahap uji coba menandai era baru perkeretaapian komuter di Indonesia. Namun di antara deru armada modern itu, JR 203 tetap punya tempat istimewa. Sejak pertama kali beroperasi di Jepang pada 1982 dan mulai dinas di Indonesia pada 2011, JR 203 telah mengabdi selama lebih dari empat dekade. Dari keramaian Tokyo hingga hiruk-pikuk Jabodetabek, dari dinginnya Chiyoda Line hingga panasnya lintas Bogor, KRL serie ini benar-benar telah melewati ribuan kilometer perjalanan yang penuh cerita.
Kini, saat satu demi satu rangkaiannya berhenti berdinas, rasanya seperti melepas kawan lama yang telah terlalu banyak berjasa. Meski tubuh tuanya mulai renta, jasa dan kenangan yang ditinggalkan tetap akan dikenang setiap kali roda besi lain berderit di rel. Selamat beristirahat, JR East 203 Series! terima kasih telah menjadi bagian dari sejarah panjang KRL Indonesia yang pasti akan tetap hidup di ingatan para pecinta kereta kereta api selamanya.
