Si Merah Tahan Air, CC300 Karya Anak Bangsa

Ada sesuatu yang berbeda dari lokomotif berwarna merah menyala ini. Bentuknya yang kotak gagah, berotot, yang siap menantang banjir sekalipun. Bukan lokomotif impor seperti kebanyakan armada yang selama ini melintasi rel Indonesia, melainkan hasil karya tangan-tangan anak negeri dari Madiun. Namanya CC300, si merah anti air yang membuktikan bahwa teknologi perkeretaapian Indonesia bisa berdiri di atas relnya sendiri.

KLB Kirim CC300 relasi Jakarta-Ngrombo

{getToc} $title={Daftar Isi}

Spesifikasi Dasar 

Lokomotif CC300 adalah lokomotif diesel hidraulik buatan PT Industri Kereta Api (INKA) yang diproduksi pertama kali pada tahun 2012. Dibuat atas pesanan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, lokomotif ini dirancang untuk keperluan dinas dan penanganan situasi ekstrem, terutama di daerah rawan banjir. Meskipun kepemilikannya ada di tangan Ditjen Perkeretaapian, pengoperasiannya dilakukan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Dari luar, tampilan CC300 mencuri perhatian dengan livery merah terang, dengan dua kabin masinis di ujung depan dan belakang, serta bodi besar sepanjang 20 meter dengan lebar 3 meter dan tinggi 3,7 meter. Beratnya mencapai 76 ton dengan konfigurasi gandar Co’Co’. Tenaganya bersumber dari mesin Caterpillar 3512B HD V12 berdaya 1.640 kW (2.200 HP) yang dipadukan dengan transmisi hidraulik Voith Turbo L620reU2. Sistem remnya menggunakan teknologi pneumatic brake dari Wabtec dan sistem kendali buatan Woojin, Korea Selatan.


Tahan Air Hingga 1 Meter

Tapi yang membuat lokomotif ini benar-benar istimewa bukan sekadar angkanya. CC300 didesain untuk tetap bisa berjalan meski rel terendam air setinggi satu meter. Sistem kelistrikannya ditempatkan di bagian atas bodi supaya tidak terganggu oleh genangan air, dan semua komponennya diatur supaya kedap air. Di saat lokomotif buatan Amerika seperti CC201 atau CC206 bisa mogok ketika banjir karena sistem traksi yan gberada di bawah underframe terendam, CC300 justru bisa melaju dengan gagah menerabas banjir.

Fitur-fitur pendukungnya juga membuat efisiensi pekerjaan masinis. Di dalam bodinya sudah terpasang genset Caterpillar C18, membuatnya tak perlu lagi menarik gerbong pembangkit terpisah untuk menyalakan listrik di rangkaian penumpang. Kabin masinisnya dilengkapi kamera monitor pengintai di sisi kanan dan kiri, membantu pengawasan rangkaian tanpa harus menoleh ke belakang.

Proyek ini mulai dikembangkan cukup lama, yaitu sejak tahun 2009 dengan biaya mencapai Rp30 miliar, yang merupakan hasil kolaborasi antara PT INKA dan Kementerian Perhubungan. Uji coba publik dilakukan pada 20 Mei 2013, bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Dengan dibuatnya lokomotif ini, indonesia menunjukan bahwa kebangkitannya di dunia perkeretaapian bukan sekadar mimpi belaka.


Alokasi si Merah

Kini sudah ada tujuh unit CC300 yang diproduksi oleh INKA dengan 2 Batch produksi, dengan nomor seri Batch 1 antara lain CC300 12 01 hingga Batch 2 CC300 14 02. Dibawah ini merupakan alokasi lokomotif CC300:

  • Ngrombo (NBO): CC 300 12 01, CC 300 12 02
  • Medan (MDN): CC 300 14 01
  • Naga (NG) (Filipina, PNR sebagai PNR seri 9000): CC 300 20 02 (9002), CC 300 20 03 (9003)
Beberapa unit telah beroperasi di Sumatera Utara, Lampung, Jawa Timur, dan Jakarta, bahkan versi ekspornya, yang dikenal sebagai PNR 9000 Class dan telah digunakan oleh Philippine National Railways di Filipina sejak tahun 2020. Dengan adanya lokomotif ini, karya anak bangsa mampu melahirkan sesuatu yang membanggakan. Sumber referensi diperoleh dari Wikipedia dan PT INKA (Persero), sebagai dasar informasi teknis dan sejarah pengembangan lokomotif CC300.

Posting Komentar

Mohon gunakan bahasa yang baik dan sopan dalam berkomunikasi. Terima kasih atas kritik dan saran yang diberikan!

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak