Di balik kehidupan kerajaan yang selalu tampak formal, ada seorang raja yang justru punya ketertarikan kuat pada dunia kereta api. Minat ini bukan dibuat-buat. Ia benar-benar mengikuti perkembangan teknologi, membeli rangkaian baru, dan memanfaatkan kereta sebagai sarana perjalanan sekaligus simbol modernitas pada masanya. Ketertarikannya memberikan warna berbeda dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia.
{getToc} $title={Daftar Isi}
Warisan Pakubuwono X
![]() |
| Kereta Jenazah Pakubuwono X |
Keraton Surakarta memiliki dua artefak perkeretaapian yang tidak hanya unik, tetapi juga sarat makna sejarah. Keduanya merupakan milik Susuhunan Pakubuwono X, sosok pemimpin yang dikenal memiliki ketertarikan mendalam pada dunia transportasi rel dan modernisasi. Dua kereta ini, masing-masing berfungsi sebagai kereta wisata dan kereta jenazah, menjadi simbol perjalanan hidup beliau sekaligus saksi bisu perubahan zaman.
Mulanya Kereta Wisata
Pada tahun 1911, Pakubuwono X membeli kereta pertamanya. Bukan kereta biasa, melainkan kereta wisata yang dirancang khusus dan sudah menggunakan sistem pendingin udara sederhana. Pendingin ini bekerja menggunakan balok-balok es yang berada di interior ruangan. Di masa itu, teknologi seperti ini merupakan bentuk kemewahan dan inovasi yang menunjukkan visi modern sang raja. Kereta ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana perjalanan, tetapi juga sebagai representasi kecintaan Pakubuwono X terhadap transportasi berbasis rel. Desainnya dibuat detail, elegan, dan mencerminkan status kerajaan.Kereta Jenazah 1914
Dua tahun setelah kereta wisata selesai dibuat, kereta kedua hadir pada tahun 1914. Kali ini, kereta tersebut memiliki makna yang jauh lebih mendalam. Dibuat oleh Werkspoor di Amsterdam, kereta ini berfungsi khusus sebagai kereta jenazah yang kelak mengantarkan Pakubuwono X dari Surakarta menuju pemakaman Imogiri, Yogyakarta. Yang menjadikan kereta ini sangat istimewa adalah konstruksinya. Terbuat dari kayu jati Jawa dengan kaca 10 mm, berwarna dominan putih, serta memiliki dua kompartemen untuk peti jenazah dan para pengawal. Tidak hanya itu, kedua kereta milik beliau dirancang agar bisa beroperasi pada dua standar lebar rel sekaligus: 1067 mm dan 1435 mm. Ini menunjukkan betapa modernnya visi sang Susuhunan terhadap sarana transportasi.Stasiun Pribadi Sang Raja
![]() |
| Pakubuwono X |
Perjalanan ke Bandung 1936
Salah satu perjalanan paling menarik adalah ketika beliau menuju Bandung pada 8 Juli 1936. Menggunakan KA Eendagsche Expres, rombongan berjumlah 44 orang, didampingi Ratu Hemas dan Ratu Pembayun. Tujuan perjalanan tersebut adalah menghadiri pameran Jaarbeurs dan bertemu Panglima KNIL. Selama di Bandung, rombongan menginap di Hotel Preanger dengan total pemesanan 17 kamar. Perjalanan berlanjut ke Garut dan Tasikmalaya menggunakan kendaraan pribadi. Pihak Staatsspoorwegen (SS) memberikan pelayanan istimewa, termasuk menghadiahkan kue berbentuk lokomotif uap dengan logo Kesultanan Surakarta. Saat kembali pada 21 Juli 1936 menggunakan KA Eendagsche Expres, pelayanan VVIP kembali diberikan oleh SS. Pakubuwono X membalas keramahan tersebut dengan memberikan tip tambahan dan menunjukkan apresiasi mendalam terhadap kru kereta api.Perjalanan Terakhir
Pada Februari 1939, kereta jenazah milik Pakubuwono X akhirnya menjalankan tugas sucinya. Jenazah beliau dibawa menggunakan kereta kuda dari Keraton Surakarta menuju Stasiun Balapan. Dari sana, kereta jenazah melaju menuju Stasiun Tugu Yogyakarta, disambut Sultan Hamengkubuwono VIII dan Gubernur Bielefeld. Iring-iringan kerajaan mengantar jenazah menuju Kotagede untuk disemayamkan semalam, sebelum akhirnya dimakamkan di Pajimatan Imogiri, Bantul, Yogyakarta.
Keretanya “Ngambek”
Kereta jenazah ini lama tersimpan dan pada tahun 1989 mengalami restorasi besar. Namun muncul fenomena yang dianggap aneh, yaitu ketika kereta ini dikatakan sulit digerakkan, seolah “enggan” meninggalkan Yogyakarta karena makam tuannya berada di sana. Saat akan dikembalikan ke Keraton Surakarta, prosesnya dikabarkan penuh hambatan dan memerlukan berbagai sajen sebagai bentuk penghormatan. Masyarakat memaknai kejadian ini sebagai bentuk ikatan spiritual antara benda pusaka dan pemiliknya, sebuah simbol kedekatan yang diyakini masih melekat kuat.
Alun-alun Selatan Surakarta
![]() |
| Kereta ini bersemayam di Alun-alun Kota Surakarta, dok.widoyoko |



